Dalam upaya mendorong berkembangnya film dokumenter, Kawanusa bekerja sama dengan The Body Shop dan Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Kompetisi Film Dokumenter 2008 tingkat SMA.Tema yang diangkat dalam kompetisi ini adalah HIV/ AIDS, Pemanasan Global dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Sosialisasi kompetisi ini telah dilakukan pada tanggal 21 Juni 2008, dan sebanyak 24 formulir pendaftaran telah diterima oleh Kawanusa dari siswa SMA di Denpasar, Gianyar, Badung dan Tabanan. Hasil seleksi penilaian yang dilakukan oleh Tim Juri (Abduh Aziz, Ukke Kosasih, Myra Diarsi), menyatakan ada 6 judul yang lolos dalam seleksi tahap I dan berhak mengikuti tahap Workshop Penulisan Naskah Film Dokumenter pada tanggal 16 - 18 Juli 2008. ke enam judul ini adalah: - Dewa Ayu Widyastiti Sravishta dan Moh. Rizal Ngambah Segara dari SMAN 3 Denpasar yang mengangkat tema Global Warming dengan ide cerita tentang partisipasi remaja putri dengan upacara adat tumpek uduh;
- Ni Kadek Krisna Andini Dipa dan I Putu Erdiawan Putra dari SMA Negeri 1 Tabanan yang mengangkat tema Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan ide cerita tentang seorang anak dan ibu yang mengalami tekanan batin karena sang ayah selalu ingin menang sendiri;
- Ni Made Nia Sylviana dan Ni Putu Dewi Arini dari SMA Negeri 1 Tabanan yang mengangkat tema HIV/AIDS dengan ide cerita tentang bagaimana remaja menyikapi penyakit HIV/AIDS;
- Komang Ayu Lestari, Putu Ari Ratna Dewi dan Ni Putu Sri Puspitawati dari SMA N 2 Denpasar yang mengangkat tema Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan ide cerita tentang remaja putri bernama Niar yang menjadi korban kekerasan bapak tirinya;
- Ni Kadek Ria Rahayu dan Komang Gayatri dari SMA N 1 Sukawati yang mengangkat tema Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan ide cerita tentang pengaruh Kekerasan Dalam Rumah Tangga pada sikap anggota keluarga yang notabene menyaksikan dan mengalami langsung kejadian tersebut;
- Ni Wayan Ratna Kesuma Dewi dan Ni Made Nyuvita Dewi dari SMA N 1 Sukawati yang mengangkat tema Global Warming dengan ide cerita tentang kebiasaan orang-orang untuk menggunakan kertas tissue dalam kaitannya terhadap jumlah pohon yang semakin berkurang.
Peserta yang lolos ini kemudian melakukan workshop 3 hari pada tanggal 16-18 Juli 2008 yang dipandu oleh Abduh Aziz, Myra Diarsi, Ukke Kosasih dan tim dari Kawanusa Bali(Asok, Yoga, Dewi dan Ananta). Materi yang diberikan meliputi: penajaman isu, penulisan naskah, ketrampilan menggunakan kamera, ketrampilan mewawancara dan lainnya. Pada akhir workshop para peserta membuat rencana tindak lanjut untuk melanjutkan proses ini ke tahap pembuatan film. Beberapa peserta juga memerlukan tambahan penguasaan ketrampilan menggunakan kamera, mencari literatur dan mempertajam riset. Satu peserta rontok Setelah workshop pembuatan script, peserta diminta untuk memperbaiki script yang sudah dibuat hingga lebih detil. Satu peserta rontok, karena tidak mengirimkan script perbaikan ke panitia. Dia adalah Ni Kadek Krisna Andini Dipa dan I Putu Erdiawan Putra dari SMA Negeri 1 Tabanan yang mengangkat tema Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dengan demikian tinggal lima kelompok yang masih mengikuti kegiatan pembuatan film dokumenter. Bonus untuk penyelesaian naskah Dua buah script setelah masa perbaikan yang dianggap cukup komplit yakni: Ni Made Nia Sylviana dan Ni Putu Dewi Arini dari SMA Negeri 1 Tabanan yang mengangkat tema HIV/AIDS dengan ide cerita tentang bagaimana remaja menyikapi sosialisasi penyakit HIV/AIDS dan Ni Kadek Ria Rahayu dan Komang Gayatri dari SMA N 1 Sukawati yang mengangkat tema Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan ide cerita tentang awig-awig dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga, masing masing mendapatkan bonus membuat film sebesar Rp. 500.000. Sedang tiga buah script lainnya yang telah berhasil diselesaikan dan memenuhi standar penulisan script yakni, Dewa Ayu Widyastiti Sravishta dan Moh. Rizal Ngambah Segara dari SMAN 3 Denpasar yang mengangkat tema Global Warming dengan ide cerita tentang partisipasi remaja putri dengan upacara adat tumpek uduh, Komang Ayu Lestari, Putu Ari Ratna Dewi dan Ni Putu Sri Puspitawati dari SMA N 2 Denpasar yang mengangkat tema Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan ide cerita tentang remaja putri bernama Niar yang menjadi korban kekerasan bapak tirinya, Ni Wayan Ratna Kesuma Dewi dan Ni Made Nyuvita Dewi dari SMA N 1 Sukawati yang mengangkat tema Global Warming dengan ide cerita tentang kebiasaan orang-orang untuk menggunakan kertas tissue dalam kaitannya terhadap jumlah pohon yang semakin berkurang, masing-masing diberikan bonus Rp. 200.000. Bonus diserahkan langsung oleh Ketua bidang Program Dewan Kesenian Jakarta (Abduh Aziz) pada acara coaching clinic editing film di Museum Sidik Jari Denpasar tanggal 13-14 September 2008. Dalam pernyataannya, Abduh Aziz menegaskan bahwa bonus hanya didasarkan pada kelengkapan script. Tidak akan menjadi ukuran bahwa penerima bonus 500 ribu akan langsung masuk nominasi, karena yang akan dinilai adalah hasil film yang diselesaikan. Jadi sebetulnya pertempuran dalam kompetisi film dokumenter ini baru dimulai sekarang, sedang rangkaian kegiatan sebelumnya lebih menekankan pada unsur kegiatan informasi, pendidikan dan pendampingan siswa memahami dan meningkatkan ketrampilan membuat film. Tiga Film Masuk Nominasi Si Putih yang berbahaya, Tumpek Uduh dan Kejarlah Sahabat, setelah melalui proses penjurian di Jakarta akhirnya berhasil menerobos masuk diantara 9 nominasi. Mereka akan bersaing ketat diantara peserta dari Yogyakarta, Bandung, Jakarta. Prestasi ini tentu saja sangat menggembirakan, mengingat selama ini Bali belum banyak dikenal sebagai pencetak/ pemroduksi film/ video di Indonesia. Namun dengan ketekunan dan kerja keras yang telah mereka lakukan, ditambah lagi dengan proses mentoring intensif, akhirnya prestasi itu mampu diukirnya. semoga mereka tidak cepat puas dengan hasil yang sudah diraih, dan tetap berkreasi dan berusaha keras memproduksi video-video yang lebih baik dan bermanfaat. Tetap Semangat
|