Pampang adalah sebuah wilayah yang didiami oleh komunitas Dayak Kenyah sejak tahun 1970. Mereka datang ke wilayah tersebut secara bergelombang dan berkelompok dari daerah hulu Sungai Mahakam. Lokasi Pampang sangat dekat dengan Ibukota propinsi Kalimantan Timur yakni Samarinda, hanya sekitar 20 km atau 45 menit dengan kendaraan bermotor. Penduduknya berjumlah lebih kurang 300 KK, mayoritas beragama Kristen Protestan. Meskipun sering disebut dengan desa, namun Pampang belum diakui sebagai desa yang definitif dan hal ini sering membingungkan masyarakat. Padahal di beberapa tempat pemerintah telah memasang papan petunjuk dan informasi tentang Desa Budaya Pampang.
Melihat kekhasan komunitas Dayak Kenyah dan akses yang mudah dan cepat untuk menuju Pampang, wilayah ini kemudian mulai tumbuh dan berkembang sebagai daerah tujuan wisata. Pada tanggal 19 Juni 1991, H.M. Ardans, Gubernur Propinsi Kaltim saat itu mencetuskan Pampang sebagai obyek wisata budaya Pampang yang dikoordinasikan langsung di bawah Dinas Pariwisata Tingkat II Kotamadya Samarinda. Sebagai obyek wisata, wilayah ini sering dikunjungi oleh wisatawan utamanya pada hari Minggu. Tidak kurang dari 50 – 100 wisatawan mengunjungi pada hari Minggu. Para wisatawan ini menonton tari-tarian pada jam 14.00 – 15.00. Harga tiket untuk kendaraan Rp 5.000 dan tiap pengunjung dikenakan tarif Rp 2.000. Pertunjukan dilaksanakan di Bangunan Lamin adat yang terletak tepat di tengah Pampang. Lamin adat ini merupakan daya tarik utama kunjungan wisata yang ada di desa ini. Bangunannya sangat megah, banyak orang terkagum-kagum terlebih ketika melihat dindingnya yang penuh dengan ukir-ukiran.
Pengelola obyek wisata di Pampang, sampai saat ini belum ada. Kegiatan yang selama ini ada dilakukan oleh pengurus kesenian desa taman budaya Pampang. Pengelolaan keuangan masih sangat sederhana, mereka mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran setiap bulan dan pelaporan kepada masyarakat dengan cara menempel laporan keuangan tersebut di ruang persiapan penari yang terletak di lamin adat.
Masyarakat mengetahui bahwa pariwisata yang ada perlu dikembangkan. Namun mereka selalu kebingungan darimana hendak memulai dan memperbaiki menjadi lebih baik dan terencana. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata sebetulnya telah beberapa kali memberikan respon, misalnya sosialisasi tentang sadar wisata, mengajak penari dan pemusik untuk terlibat dalam berbagai event kesenian, namun respon tersebut tidak menjawab persoalan sebenarnya yang dihadapi oleh masyarakat dan harapan mereka ke arah pengembangan dan pengelolaan kepariwisataan.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat setempat, Total E&P Indonesie, bermaksud untuk mengembangkan ekowisata Desa Budaya Pampang tersebut, sehingga dapat meningkatkan kemampuan kemandirian masyarakat setempat dalam mengelola ekowisata di desanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, Total E&P Indonesie bekerjasama dengan Kawanusa melakukan penelitian, pengkajian, pelatihan, memberikan saran, dan rekomendasi tentang sumber daya alam dan sumber daya manusia berpotensi untuk dapat dikembangkan di Desa Budaya Pampang tersebut.
Kegiatan awal untuk mengembangkan ekowisata di Pampang adalah pelatihan untuk meningkatkan kemampuan profesional masyarakat setempat dalam rangka pengelolaan ekowisata di desanya, di samping itu bertujuan pula untuk memperkuat organisasi masyarakat yang ada dan memperkenalkan strategi pemasaran ekowisata mandiri kepada masyarakat desa.
Pelatihan selama 1 minggu Tanggal 8-17 Desember 2008, tentu saja baru merupakan perkenalan awal kepada masyarakat. masih perlu untuk ditindaklanjuti dengan proses pendampingan yang intensif, guna mewujudkan pengembangan ekowisata yang berbasis masyarakat dan lingkungan di desa pampang, samarinda, kalimantan timur.
|