Memang agak aneh kedengarannya, ketika Kawanusa sebagai lembaga konsultan turut mendukung Konser Interaktif Bunga Rampai Tanah Airku yang digelar oleh The Indonesia Choir. Apa hubungannya? Sebaiknya memang tidak perlu dipikir terlalu serius hubungan antara paduan suara dengan lembaga konsultan.
Bahwa konser tersebut berlangsung dengan sukses dan meriah, semua yang menonton saat itu pasti mengakuinya. Ini memang konser yang langka. Biasanya paduan suara hanya merupakan bagian dari konser musik baik klasik maupun pop. Letak pemainnya jauh ada di belakang, dan kalau bisa tidak terlihat. Hanya suaranya saja yang sayup sayup terdengar. Nah di Bunga Rampai Tanah Airku, justru paduan suara yang menjadi “point of interest” pertunjukan. Selama pertunjukan penonton terpaku di kursinya dan kaget ketika pertunjukan tiba-tiba telah usai. Penonton seolah tidak percaya dan beberapa diantaranya menengok jam tangan setelah disebutkan oleh MC dalam kalimat penutup bahwa pertunjukan yang memakan waktu 3 jam dari pukul 20.00 – 23.00 semoga memberi makna dan kesan yang baik kepada penonton, sampai jumpa pada konser berikutnya di bulan September 2009. Kawanusa yang sebagian konsultannya memiliki keahlian pengorganisasian masyarakat, sangat memahami bagaimana sulitnya membentuk masyarakat yang terorganisir. Situasi ini mirip dengan paduan suara yang harus memadukan seluruh suara masing masing personilnya menjadi sebuah kesatuan suara tanpa menghilangkan keindahan, kekhasan dan keunikannya. Semua itu tentu memerlukan proses panjang, berjenjang dan penuh dinamika, yang tidak bisa dicapai hanya melulu dari melatih suara. Oleh sebab itu, konser tersebut hanyalah merupakan titik persimpangan dari proses perkembangan kelompok the indonesia choir, yang merupakan pertanggungjawaban mereka selama berproses. Disinilah sebetulnya letak benang merah kenapa Kawanusa dengan segala keterbatasannya turut medukung perkembangan The Indonesia Choir. Selain memang karena sang dirigen adalah salah satu anggota konsultan Kawanusa. Untuk sebuah pertunjukan perdana, konser ini memang cukup mengagetkan. Kursi yang tersedia di gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail sebanyak 430 buah, sudah habis terjual 10 hari sebelum pertunjukan. Banyak penonton yang datang langsung tanggal 12 Maret 2009 pulang dengan bingung, begitu mendapat penjelasan dari petugas bahwa tiket telah habis. Mungkin mereka heran dan bertanya-tanya apa yang membuat konser ini istimewa. (lihat juga ulasan kompasiana 14 Maret 2009 dan Majalah Tempo 23 maret 2009). Selamat berkarya terus dengan semangat konvergensi, kolaborasi, eksperimentasi dan eksplorasi “The Indonesia Choir”
|