Tentang KawanusaDivisi KonsultanDivisi PendidikanArtikel & BeritaFestival Video KomunitasPhoto GalleryHome
Home » News » Memahami Video Komunitas
Posted by Yoga on Tuesday, July 8, 2008 - [3777 views]

Memahami Video Komunitas

 

(diringkas kembali dari buku video komunitas oleh yoga atmaja)

shootingdadongpuriBeberapa tahun belakangan ini, mulai menjamur gagasan penggunaan medium video dalam kerangka pemberdayaan masyarakat. Di balik gagasan itu, ada anggapan dan keyakinan bahwa dengan memindahkan kemampuan teknis pembuatan video kepada masyarakat awam, serta-merta akan memindahkan ‘kekuasaan’ kepada orang awam –terutama mereka di lapisan akar-rumput—untuk menciptakan wacana mereka sendiri yang, pada gilirannya, akan melahirkan proses-proses penyadaran.Tapi, apa memang sesederhana itu?

HEGEMONI MEDIA & ANOMALI INFORMASI

Medium ‘gambar-hidup bersuara’ (audio visual), dikenal sebagai jenis media yang memiliki daya susup-pengaruh (persuation) sangat besar untuk terhadap penontonnya, terutama sekali karena kemampuan ‘menirukan’ (mimetic) dari kamera video untuk memindahkan berbagai kejadian atau kegiatan dan tindakan manusia ke dalam bentuk gambar-hidup bersuara secara nyaris sempurna (vivid images). Berkat kemajuan teknologi optikal dan digital dalam proses-proses penyuntingan (editing), rekaman gambar-gambar oleh kamera video bahkan sudah sampai pada taraf dapat ‘diubah-sesuaikan’ (modified, manipulated) , sehingga membuatnya jauh lebih dramatik daripada ‘yang sesungguhnya’. Unsur suara (audio) nya –yang juga sudah sampai pada taraf sudah dapat ‘diubah-sesuaikan’—semakin meningkatkan kemampuan efek dramatiknya. Teknik-teknik mutakhir penyuntingan gambar video bahkan sudah mampu menyusun dan merangkai gambar-gambar tersebut ke suatu penggambaran baru yang berbeda sama sekali, atau bahkan yang masih berupa rekaan sekalipun. Jadi, bukan sekadar ‘apa adanya’ lagi. Semua itu, tentu saja, menurut kehendak dan sesuai dengan tujuan sang pembuatnya untuk menggiring penonton menerima apa yang mereka sampaikan.

Hal itu nampak sangat dan paling gamblang pada jenis film-film cerita (fiction). Jenis film ini mampu –dan umumnya memang—memberi bentuk nyata dari pendaman atau ungkapan keinginan-keinginan dan khayalan-khayalan indah, juga mimpi-mimpi buruk dan ketakutan-ketakutan kita. Film jenis ini mampu membuat hal-hal yang sifatnya masih maya, suatu khayalan, menjadi sesuatu yang ‘nampak nyata’, dapat dilihat maupun dapat didengar secara kasat. Film cerita mampu memberi kesan bahwa apa yang kita inginkan, atau yang kita takutkan, kenyataannya mungkin saja bisa terjadi. Memang ada film-film cerita yang menyampaikan kenyataan yang sebenarnya, tetapi tetap saja dengan wawasan dan sudut-pandang sang pembuatnya yang dapat saja kita terima atau tolak. Adalah sangat tergantung kepada tujuan sang pembuatnya, apakah suatu film cerita memang menawarkan suatu dunia kepada kita untuk dijelajahi dan direnungkan secara kritis, atau hanya sekedar untuk bersukacita dalam kesenangan bergerak dari satu dunia yang ada di sekitar kita hingga dunia lain yang tak terbatas kemungkinannya.

Sama halnya dengan jenis film bukan cerita (non fiction), seperti misalnya, film dokumenter (documentary). Secara teori dirumuskan bahwa film dokumenter adalah pemanfaatan kapasitas rekaman suara dan sinematografi untuk menghasilkan kembali (reproduce) penampakan fisik atas sesuatu. Film dokumenter membentuk ‘ingatan populer’, menawarkan cara-pandang dan penafsiran atas isu-isu, proses-proses, dan peristiwa-peristiwa kesejarahan. Dalam pengertian ini, film dokumenter menampilkan bentuk kenyataan yang ‘bukan merupakan suatu kebenaran untuk ditelaah’, melainkan sebagai ‘suatu kenyataan sosial dan historis yang hanya dapat dipahami dalam konteks sumber sang pembuatnya’. Sehingga, film dokumenter sebenarnya bukanlah bentuk penyajian kenyataan atau peristiwa yang sepenuhnya objektif, tetapi menyajikan gambaran suatu kasus atau kejadian dengan susunan atau rangkaian (struktur) bersengaja dan pengaturan sudut-pandang subjektif sang pembuatnya untuk mempengaruhi orang lain.

Jadi, sama sekali tak ada film –dan media apapun—yang benar-benar netral. Karena itu, harus disadari sejak awal bahwa setiap film atau media audio-visual –apapun jenisnya—selalu mengandung pesan dan kepentingan subjektif sang pembuatnya, mulai dari sang perekam gambar, penulis naskah, penyunting dan pengarah cerita serta, tentu saja, pemilik modal yang membiayainya, sampai ke para pengusaha periklanan yang menawarkan dan menganjurkannya, serta para penyalur dan pemilik media-massa yang menyiarkannya.

Pemahaman mendasar inilah yang mestinya terlebih dahulu dijelaskan kepada masyarakat awam yang dilibatkan dalam kegiatan penggunaan medium video dalam rangka upaya dan proses pemberdayaan. Hanya dengan pemahaman kritis semacam itu kita dapat melihat keterkaitan-keterkaitan (relasi) politik ekonomi dari media, dan bagaimana sesungguhnya kedudukan mereka selama ini di dalamnya lebih sebagai pengguna pasif, sasaran pasar potensial dari berbagai kepentingan para pembuat, pengelola dan --terutama sekali, tentu saja-- para pemilik dan penguasa media.

Ada yang mulai menyanggah kesimpulan ini dengan mengajukan fakta bahwa media-massa elektronik –dalam hal ini adalah jaringan stasiun televisi—telah melibatkan berbagai lapisan dan kalangan masyarakat awam dalam berbagai acara siaran mereka. Semakin banyak stasiun televisi yang menyajikan acara-acara siaran yang bersifat ‘interaktif’. Kini, para warga biasa atau orang kebanyakan dapat terlibat langsung dan menjadi bagian dari acara-acara siaran televisi komersial sekalipun tanpa harus menjadi pejabat atau tokoh politik. Hal itu menjawab sebagian dari kecaman keras –tentang kecenderungan eksklusif dan elitisme-- yang pernah dilontarkan kepada jenis media ini.

Dalam beberapa hal dan sampai taraf tertentu, ‘keterjangkauan’ (access) terhadap siaran-siaran televisi memang semakin terbuka dan meningkat. Pesawat televisi itu sendiri bukan lagi barang asing dan mewah, bahkan bagi penduduk pedesaan terpencil. Tetapi, tidak berarti bahwa ‘pengendalian’ (control) masyarakat luas terhadap acara-acara siarannya semakin meningkat pula.

Jadi, apa yang terjadi sebenarnya bukanlah suatu proses komunikasi yang sesungguhnya --atau ‘tindakan komunikasi’ (communicative action) dalam pengertiannya yang mendasar seperti yang pernah dikemukakan oleh Jurgen Habermas—terutama karena unsur terpenting dari proses perbincangan atau percakapan itu (yakni isi atau tema dan tujuannya) tidak ditentukan secara bersama-sama, tetapi oleh salah satu fihak saja (yakni pengelola dan pemilik stasiun televisi yang, jelas sekali, memiliki kekuasaan yang paling menentukan). Sehingga, semua informasi –dan pengetahuan yang dihasilkan bukanlah proses pemaknaan secara bersama dan saling berbagi, apa lagi mengharapkannya sebagai wahana penciptaan pengetahuannya kalangan awam yang dilibatkan dalam acara-acara tersebut hanya atau lebih sebagai pelengkap saja.

MENJERNIHKAN ISTILAH & PENGERTIAN

Ada banyak peristilahan yang pernah digunakan selama ini untuk menamai gagasan pembuatan dan penggunaan video di kalangan dan oleh masyarakat awam. Salah satu yang paling banyak dan luas digunakan adalah istilah ‘video partisipatif’ (participatory video). Meskipun bertolak dari inti gagasan pokok yang sama, namun ada beberapa alasan untuk kemudian tidak menggunakan istilah tersebut disini. Alasan yang paling mendasar adalah karena istilah ‘paritipasi’ itu sendiri sebenarnya lebih merujuk pada kaidah-kaidah asas (prinsip-prinsip) pendekatan dan proses-proses atau cara-cara yang ditempuh dalam pembuatan dan penggunaan video komunitas. Jadi, istilah itu terutama tidak merujuk pada hakikat isi dan tujuan dari video komunitas.

Alasan lain adalah karena penggunaan istilah ‘partisipatif’ sekarang cenderung memancing ke arah perdebatan semantik yang tidak perlu. Hal ini terutama karena telah terjadi banyak kerancuan akibat pencaplokan (kooptasi) istilah tersebut oleh berbagai fihak yang selama ini justru menentang dan memberangus setiap bentuk atau upaya ke arah terwujudnya kaidah-kaidah asas partisipasi yang sesungguhnya (genuine participation) dalam kehidupan nyata masyarakat. Misalnya, ‘pembelokan’ makna oleh banyak lembaga pemerintah --juga perusahaan-perusahaan swasta besar dan lembaga-lembaga keuangan internasional—yang menyamakan pengertian partisipasi dengan istilah ‘pendekatan berbagai-fihak’ (multi stakeholders) –yakni, bahwa semua fihak, tanpa memperhatikan posisi kekuasaan masing-masing, harus duduk bersama membahas isu-isu yang terkait dengan berbagai kepentingan mereka. Jika pengertian tersebut ditberlakukan dalam pembuatan dan penggunaan video komunitas, maka masalah ‘ketimpangan kekuasaan dan pemilikan’ akan muncul kembali. Ini berarti bahwa gagasan awal video komunitas --sebagai alternatif bagi mereka yang tidak memiliki kekuasaan atas media selama ini—tetap tidak terpecahkan.

Pengertian dasar partisipasi bukanlah ‘mengajak semua fihak’ –apalagi dengan keharusan menampung kepentingan semua fihak tersebut yang, dalam kenyataannya, justru lebih banyak saling bertentangan. Pengertian asalnya jelas-jelas menekankan pada ‘melibatkan kelompok atau lapisan masyarakat yang -- oleh berbagai ketimpangan sosial politik, ekonomi, dan budaya selama ini—terabaikan oleh kekuasaan (termasuk kekuasaan atas media)-- dari proses-proses pengambilan keputusan yang menentukan nasib mereka’. Istilah ‘video komunitas’ jelas-jelas mengandung pengertian ‘berbasis komunitas’ (community-based), merujuk pada suatu kelompok masyarakat tertentu, dalam batasan ruang dan waktu tertentu pula –jadi, sama sekali tidak ‘anonim’-- dengan berbagai permasalahan sosial mereka yang khas. Karena itu pula, istilah ‘video masyarakat’ atau ‘video rakyat’ juga tidak digunakan disini karena kedua kata tersebut dalam bahasa Indonesia cenderung terlalu luas mencakup siapa saja.

Singkatnya, dengan atau tanpa menggunakan sebutan ‘partisipatif’, istilah ‘video komunitas’ dengan sendirinya mengandung pengertian yang mempersyaratkan keterlibatan anggota kelompok masyarakat dimana video itu dibuat dan digunakan. Ini merupakan suatu keharusan, mutlak harus dilakukan, sehingga sebenarnya tak perlu dipersoalkan atau diperdebatkan lagi. Lagipula, hampir semua prakarsa video komunitas yang dikenal selama tidak mulai dengan kepusingan peristilahan yang digunakan untuk menyebut diri mereka, bahkan banyak sekali yang tanpa istilah apapun.

Sejarah video komunitas menunjukkan bahwa prakarsa awalnya muncul –di banyak organisasi non pemerintah yang bekerja langsung di tengah suatu kelompok masyarakat tertentu—justru karena berbagai sebab (faktor penggerak) yang berbeda dan beragam. Tetapi, satu hal jelas adalah mereka semua bertolak dari visi, gagasan, dan kegelisahan yang sama: mengapa media yang memiliki daya pengaruh sangat kuat dan cepat menyebar luas itu, selama ini hanya dimanfaatkan dan dikuasai oleh mereka yang bermodal besar, berkuasa, berpendidikan tinggi, berkeahlian teknis khusus, dan umumnya orang kota? Mengapa dan apakah kelompok atau lapisan masyarakat miskin, di lapisan terbawah, tidak berpendidikan, tinggal di desa atau kampung, memang tidak dapat membuat dan menggunakannya untuk kepentingan-kepentingan mereka sendiri?

Kegelisahan itulah terutama –bukan karena ada lembaga dana yang menganjurkan dan mendukung pembiayaannya-- yang kemudian melahirkan serangkaian percobaan terbatas, dengan peralatan serba sederhana, bahkan ada yang pada awalnya hanya menggunakan video semata-mata sebagai alat perekam (pendokumentasian) kegiatan saja. Lama kelamaan –terutama setelah hasil-hasil kemajuan teknologi digital (mulai dari kamera sederhana sampai perangkat keras maupun perangkat lunak komputer, bahkan juga alat pemancar atau transmisi) semakin murah harganya dan semakin mudah diperoleh hampir dimana saja—mereka pun melangkah lebih jauh menjadikan media atau video komunitas sebagai bagian tak terpisah dari program atau kegiatan mereka. Lebih jauh lagi, video kini juga dapat dijadikan sebagai alat kampanye baik bagi masyarakat luas –untuk memperkenalkan berbagai persoalan di komunitas dimana video itu dibuat—maupun bagi pembuat kebijakan –yang selama ini tidak menaruh perhatian pada persoalan-persoalan tersebut.

ALAT KE ARAH PERUBAHAN SOSIAL

Jadi, apa dan untuk apa sebenarnya video komunitas itu?

Berdasarkan konteks permasalahan dan sejarahnya, maka video sebenarnya hanyalah alat –sama seperti alat-alat atau media lainnya—dalam keseluruhan proses-proses pendidikan dan pengorganisasian masyarakat untuk tujuan-tujuan perubahan sosial. Dengan kata lain, video itu sendiri --sebagai suatu hasil kerja (product)-- bukanlah tujuan utamanya dan bukanlah hasil akhirnya yang terpenting.

Inilah yang terutama dan paling mendasar membedakan antara video komunitas dengan video atau film lainnya. Pembuat video atau film profesional dan komersial, misalnya, menganggap pekerjaan mereka sudah selesai ketika video atau filmnya juga sudah selesai sebagai suatu hasil karya. Sementara hasil karya mereka itu akan ditonton oleh orang lain yang sebagian besar tidak dikenalnya sama sekali, mereka akan segera memikirkan karya video dan film berikutnya yang umumnya tidak ada kaitan lagi sama sekali dengan produk video atau film mereka sebelumnya. Sebaliknya, pembuat video komunitas justru baru memulai pekerjaan yang sesungguhnya ketika video atau filmnya sudah selesai. Mereka akan menggunakan video atau film tersebut sebagai alat untuk memulai proses-proses diskusi di tengah masyarakat yang sangat dikenalnya –atau, karena dia sendiri memang adalah bagian dari mereka-- tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tema atau isu yang diangkat dalam video atau film tadi. Karena itu, bisa saja terjadi suatu produk video komunitas dibuat ulang kembali sesuai dengan hasil dari proses-proses diskusi antar warga.

Dengan kata lain, video menjadi alat penghubung atau komunikasi antar warga mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi; menjadi bahan diskusi kelompok untuk bersama-sama mencari jalan keluar dari berbagai permasalahan tersebut; sekaligus sebagai alat mendokumentasikan proses-proses pemecahan masalah yang mereka tempuh; dan, akhirnya, berkembang menjadi alat refleksi bersama untuk menentukan pilihan-pilihan arah dan cara-cara yang lebih baik dalam tindakan-tindakan mereka berikutnya. Seluruh rangkaian ini –dikenal sebagai ’daur belajar’ (learning cycle) atau lingkar aksi-refleksi dalam proses-proses pendidikan masyarakat—menjadi inti proses dari pembuatan dan penggunaan video komunitas.

Dalam video komunitas, apa yang dilakukan seorang fasilitator hanyalah melakukan serangkaian tindakan yang merangsang atau mendorong lahirnya prakarsa dan daya-cipta (kreativitas) anggota masyarakat setempat sebagai pelaku utama pembuatan video atau film tentang diri (masalah-masalah, kegiatan, keadaan, lingkungan, kehidupan) mereka sendiri. Dengan memperkenalkan cara-cara penggunaan dan karakter teknologi video sebagai ‘sarana bicara’ untuk mereka, warga setempat diharapkan memiliki tambahan bahasa pengungkapan –bahasa visual—sebagai alat efektif untuk menyatakan perasaan, pikiran, dan pandangan-pandangan mereka sendiri (inside view) terhadap berbagai hal yang terjadi di lingkungan dan dalam kehidupan mereka. Ini akan sangat membantu mereka –terutama yang di daerah pedesaan terpencil—mengatasi kesulitan menyatakan sesuatu melalui kata-kata, apalagi jika berhadapan dengan orang luar yang berkedudukan sosial dan berpendidikan lebih tinggi dari mereka. Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu bahkan mampu menumbuhkan kepercayaan diri yang lebih besar bagi warga setempat untuk merasa lebih setara dengan orang luar yang selama ini mereka anggap ‘sudah lebih maju’ dibanding diri mereka sendiri.

Orang-orang dari luar juga menjadi lebih berkesempatan untuk menyaksikan –secara lebih hidup dalam bentuk visual-- ungkapan perasan, pikiran, dan pandangan warga setempat. Ini membuka kemungkinan lebih besar bagi mereka untuk belajar lebih berrendah-hati memahami cara-pandang orang lain yang lebih sering mereka abaikan selama ini, sehingga memungkinkan tumbuhnya empati dan dialog yang sesungguhnya, mengurangi ‘cap-miring’ (stereotipa) dan prasangka. Jadi, pengertian video komunitas sebagai alat pembelajaran, sebenarnya bukan hanya berlaku khusus untuk warga setempat, tetapi juga bagi orang luar yang berhubungan dengan mereka.

Video komunitas juga membuka kesempatan kepada setiap anggota masyarakat setempat untuk terlibat aktif di dalam proses pembuatannya. Pernyataan dari semua kalangan dan lapisan warga yang berbeda dapat direkam, sehingga banyak suara yang tidak pernah terdengar, atau wajah-wajah yang tak pernah terlihat dalam berbagai kegiatan bersama warga selama ini, atau bahkan hal-hal yang selama ini kurang diperhatikan oleh warga setempat –karena sudah dianggap ‘terlalu biasa’-- dapat dimunculkan di depan kamera. Video komunitas berpotensi besar untuk merangsang prakarsa perubahan dan pembaharuan karena sesungguhnya melahirkan dan mempercepat pertukaran gagasan-gagasan kreatif di antara warga masyarakat setempat. Jika dilakukan dengan benar dan taat-asas, proses-proses ‘produksi dan reproduksi pengetahuan lokal’ semacam itu akan terjadi dengan sendirinya.

Proses-proses inilah yang membantu warga masyarakat setempat untuk berimajinasi secara visual tentang apa masalah-masalah nyata yang mereka hadapi saat ini, apa sesungguhnya yang ingin mereka capai di masa depan, dan apa yang harus mereka lakukan untuk itu semua? Gambaran ‘visioner’ secara visual semacam itu adalah sesuatu yang sangat mendasar jika kita bicara tentang perubahan sosial, suatu konsep niskala (abstract) yang tidak mudah dan sederhana dijelaskan kepada orang sekolahan sekalipun, apalagi ke orang kampung di tempat-tempat terpencil. Gambar-gambar video sangat membantu me’wujud-nyata’kannya dan, lebih penting lagi, dapat difahami oleh warga masyarakat setempat melalui pengalaman-pengalaman nyata (contextual) mereka sendiri, dari sudut-pandang mereka sendiri, bukan berangkat dari teori-teori atau pengandaian-pengandaian para pakar atau orang lain dari luar, satu bentuk nyata dari “...mengurangi ketergantungan pada kependetaan (priesthood) kaum profesional” dari sistem masyarakat modern yang ternyata “...melahirkan lebih banyak masalah, bahkan lebih rumit, dari apa yang mampu mereka selesaikan selama ini” (Illich, 1978).

Selanjutnya, pada tingkatan yang lebih tinggi dan cakupan lebih luas, tayangan-tayangan singkat video komunitas juga dapat digunakan sebagai sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang efektif lintas-komunitas –bahkan lintas-negara, bangsa, agama, dan budaya, terutama jika memang terdapat kemiripan keadaan dan masalah yang mereka hadapi-- untuk saling menguatkan dan saling mengilhami. Tayangan video tentang sasi ikan lompa di Haruku –yang dicontohkan di atas tadi—sempat mengilhami warga masyarakat adat tempatan di pelosok Sarawak, Malaysia, atau satu komune Buddhis di pedalaman Rattanakiri, Kamboja, untuk mulai menghidupkan kembali praktik-praktik serupa dalam sistem tradisional mereka sendiri. Tayangan video komunitas tentang orang Indian Kayapo di Brazil –salah satu video komunitas yang sudah melegenda dan paling sering digunakan di banyak organisasi lingkungan hidup di seluruh dunia, termasuk di Indonesia—mengilhami gagasan munculnya gerakan-gerakan perlindungan hak-hak masyarakat adat (indigenous rights movement) dan pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat lokal (community-based natural resource management) yang mulai marak sejak tahun 1980an.

Walhasil, kian jelas bahwa gagasan atau konsep dasar video komunitas memang hanya alat penggerak perubahan sosial yang lebih besar dan luas. Gerak ke arah perubahan sosial itulah yang menjadi tujuan utama, bukan video atau film nya itu sendiri sebagai suatu produk. Meskipun demikian –sebagai alat—video komunitas tidak lantas hanya diperlakukan sebagai ‘barang hiasan’ (illustrative) dalam proses ke arah perubahan tersebut. Beberapa contoh nyata di atas memperlihatkan bahwa video adalah alat yang ‘sebati’ (inherent) di dalamnya. Sehingga, tak ada jalan lain bahwa setiap organisasi yang akan membuat dan menggunakan video-komunitas harus taat pada kaidah asasnya sebagai bagian dari proses pendidikan dan pengorganisasian masyarakat setempat.



     
     


     
     
    new photo
    SEARCH
    BERITA TERPOPULER
    Apa Itu Film Dokumenter?
    Foto untuk Pendidikan Masyarakat
    Mendorong pembuat film dokumenter anak SMA di Bali
    Memahami Video Komunitas
    Lintas Sejarah Video Komunitas
    Video Komunitas dan Video Dokumenter
    Pelatihan Pengorganisasian Masyarakat di Wakatobi
    Media Visual Foto untuk Pendidikan Masyarakat di Sumba dan Jeneponto
    Mendorong pengelolaan usaha bersama di wakatobi
    Tripikon di Raja Ampat, Papua
     
    BERITA TERBARU
     
    Membangun sistem komunikasi masyarakat
    Video komunitas Diundang Ke Malaysia
    Video komunitas Berkembang lagi ke Desa Beraban
    Mendukung The Indonesia Choir dalam Konser Interaktif Bunga Rampai Tanah Airku
    Mengembangkan Media Visual untuk Tenaga Pendidik Polisi di Papua
    Pelatihan Ekowisata di Desa Pampang, Samarinda, Kalimantan Timur
    “Dan Kawanusa Award 2008 diberikan kepada ……”
    Terpilih 15 video nominasi festival video komunitas 2 tahun 2008
    Pamer Sineas SMA 2008, MENGiNTiP BaLi
    Pemantapan video komunitas angkatan 2 di Desa Gadungan
     
    HUBUNGI KAMI
    Untuk informasi lebih lanjut silakan kirim surat/email menggunakan form ini atau email ke: kawanusa@kawanusa.co.id

    Jl Buana Kubu gang Kembang Soka No. 2 Padang Sambian, Denpasar Barat, 80117.
    Telp 0361 746 3247

    Tentang Kawanusa | Divisi Konsultan | Divisi Pendidikan | Artikel & Berita | Festival Video Komunitas | Photo Gallery | Home | Links | Site Map
    Copyright © 2008 by Kawanusa. All rights reserved. Designed by simple multimedia