Roem Topatimasang: Konsultan Senior Kawanusa dan remdec, guru sukarela Sekolah Rakyat di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, yang merintis media populer pertama di Indonesia pada akhir 1980an, dan masih tetap berproduksi sampai sekarang di bawah Yayasan Nen Mas Il dan Jaringan Baileo Maluku. Sejak drop-out dari IKIP Bandung tahun 1980, menghabiskan seluruh waktunya sebagai relawan di berbagai organisasi non pemerintah, organisasi masyarakat lokal, lembaga penelitian, pondok pesantren, dan lembaga pelayanan gereja di Jakarta dan daerah pedesaan Jawa Tengah (1982-1986); di Timor, Papua, Maluku, Sarawak, Semenanjung Malaysia, Vietnam bagian selatan, dan pedalaman Cambodia (1986-1998). Kini mukim di Jogyakarta sebagai Ketua Dewan Pengurus INSIST, serta anggota Badan Pembina YPRI dan ‘Kampung Halaman’. Menulis beberapa buku terbitan P3M, Jakarta, serta Pustaka Pelajar dan INSISTPress, Jogyakarta. Diantaranya Belajar Dari Pengalaman (P3M,1986), Biarkan Kami Bicara (P3M,1987), Menggeser Neraca Kekuatan (YLKI,1988), Potret Orang-orang Kalah (Sejati,1994), Sekolah Itu Candu (1997) dan banyak buku-buku panduan pelatihan di lingkungan ORNOP; juga menterjemahkan dan menyunting buku-buku Paulo Freire (Pendidikan Kaum Tertindas, LP3ES, 1985); IOCU (Menggalang Kekuatan, YLKI, 1988); Si Kahn (Mengorganisir Rakyat, Indeks,1989); (Marxisme dan Teologi Pembebasan, Indeks,1990); Ton Dietz (Pengakuan Hak atas Sumberdaya Alam, INSIST-Pustaka Pelajar,1998). Sampai sekarang, sambil membantu para pemimpin masyarakat adat di Maluku menulis buku-buku karya mereka sendiri, juga tetap memproduksi berbagai media untuk pelatihan dan advokasi kebijakan. Riri Riza Abduh Aziz Banyak aktif sebagai praktisi film: sebagai manajer produksi; produser dan penulis naskah di beberapa film cerita dan dokumenter, serta produk audio visual lainnya. Sampai sekarang masih mengajar di Fakultas Film & Televisi, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) untuk mata-kuliah Film Dokumenter. Kini menjabat sebagai Ketua Bidang Program, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) masa -bakti 2006-2009. Beberapa film, dokumenter yang pernah dibuat: daun di atas bantal (manajer produksi), aku ingin menciummu sekali saja (produser eksekutif), serial dokumenter anak seribu pulau (produser eksekutif), dll. Yoga Atmaja Konsultan senior Kawanusa. Selama lebih dari 15 tahun melakukan perannya sebagai fasilitator program pendidikan kerakyatan di Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua. Mulai aktif memproduksi dan menggunakan berbagai media foto, video sejak tujuh tahun yang lalu untuk kepentingan media pendidikan, pengorganisasian masyarakat dan kampanye. Sangat produktif dalam membuat media untuk pendidikan di sekolah transformasi sosial di lingkaran Insist. Tidak kurang lima puluh judul telah dibuatnya. Diantaranya adalah Sekolah Banjar, Melawan Bayangan, bidan desa, potret pengorganisir, hutan kiadan dan lainnya. Nurhanita Toto Rahardjo Konsultan inti Kawanusa, mulai aktif di dalam kancah pengorganisasian masyarakat sejak tahun 1979 dari desanya sendiri di banjarnegara, kemudian membangun dinamika Edukasi dasar bersama Romo Mangunwijaya, dan bergerak lagi ke wilayah NTT dengan memfasilitasi beberapa NGO di sana. Menghabiskan waktu bergelut dengan pendidikan populer di komunitas LSM, masyarakat petani jawa dan komunitas kesenian kyai kanjeng. Sekarang menjabat sebagai dewan pendidikan INSIST, pengurus YPRI. Menulis beberapa buku bersama dengan teman-temannya, diantaranya Pendidikan Populer, Panduan Advokasi Kesehatan, Mengorganisir Konsumen dll.
|